Investigasi Awal Blackout Sumatera, Bareskrim Pastikan Tak Ada Unsur Sabotase

terkini

Iklan

Investigasi Awal Blackout Sumatera, Bareskrim Pastikan Tak Ada Unsur Sabotase

Expossidiknews.com
22 Mei, 2026, 13.28 WIB. Dibaca: kali Last Updated 2026-05-27T06:33:29Z
Bareskrim Polri bersama PT PLN gelar konferensi pers soal gangguan sistem kelistrikan di Mabes Polri, Jumat (22/5/2026). (Foto: Humas Mabes Polri)

JAKARTA | ESNews -
Bareskrim Polri bersama PT PLN (Persero) mengungkap hasil investigasi awal terkait gangguan sistem kelistrikan atau blackout massal yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat (22/5/2026). Dari hasil penyelidikan sementara, aparat memastikan tidak ditemukan indikasi sabotase maupun unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut.

Gangguan diduga kuat dipicu faktor teknis pada jaringan transmisi yang diperparah cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan penyampaian hasil investigasi awal dilakukan sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada publik terkait peristiwa yang menjadi perhatian luas masyarakat dan pemerintah.

“Kami akan menyampaikan beberapa hal yang menjadi perhatian publik, termasuk pemerintah, bersama Polri dan khususnya PT PLN (Persero), terkait terjadinya blackout di wilayah Sumatera Utara,” ujar Trunoyudo, Senin (25/5/2026).

Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifudin menjelaskan, tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Direktorat Tindak Pidana Umum, Puslabfor Bareskrim Polri, Ditreskrimsus Polda Jambi, dan PT PLN telah melakukan investigasi lapangan di lokasi tower transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, pada Minggu (24/5/2026).

Hasil identifikasi awal menunjukkan, pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB terjadi gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai di wilayah Jambi. Gangguan tersebut diduga dipicu kondisi cuaca buruk yang menyebabkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera.

Akibat gangguan tersebut, frekuensi dan tegangan listrik menjadi tidak stabil hingga memicu terhentinya sejumlah pembangkit secara berantai (trip). Kondisi itu berdampak pada pemadaman listrik massal di sejumlah wilayah, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.

“Hasil identifikasi awal diketahui bahwa gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai diduga dipicu faktor cuaca buruk yang mengakibatkan sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatera,” kata Nunung.

Tim investigasi juga menemukan kabel transmisi yang putus di sekitar tower. Meski demikian, kondisi struktur tower secara umum masih dinyatakan baik dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.

Menurut Nunung, penyebab putusnya kabel masih didalami dengan sejumlah kemungkinan, mulai dari faktor mekanis akibat gesekan dan terpaan angin, panas dari sambungan longgar yang memicu loncatan listrik, hingga tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem.

“Sampai dengan saat ini dapat kami pastikan bahwa tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem,” tegasnya.

Pemeriksaan awal juga menunjukkan pola kerusakan kabel berupa serabut terurai dan tidak memperlihatkan bekas potongan rapi yang mengarah pada tindakan sabotase. Potongan kabel yang putus kini telah diamankan untuk diuji secara ilmiah di laboratorium forensik Puslabfor Polri guna memastikan penyebab pasti kerusakan.

Sementara itu, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan sistem kelistrikan Sumatera ditopang dua jalur utama transmisi, yakni koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV yang menyalurkan daya dari wilayah selatan menuju utara.

Saat gangguan terjadi, jalur transmisi mengalami trip akibat hujan deras dan angin kencang yang memicu perubahan aliran daya hingga terjadi fenomena power swing atau osilasi tegangan dan frekuensi tinggi.

Kondisi tersebut menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera terpisah menjadi dua bagian. Wilayah selatan mengalami surplus daya pembangkit, sementara wilayah utara mengalami defisit daya hingga sejumlah pembangkit berhenti beroperasi secara berantai (domino effect).

PLN kemudian melakukan pemulihan bertahap melalui mekanisme black start menggunakan pembangkit diesel dan gas, dilanjutkan pengoperasian PLTGU dan PLTU hingga sistem kembali pulih sepenuhnya.

“Seluruh sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal 100 persen dan saat ini beroperasi dengan aman dan stabil,” ujar Edwin.

PLN memastikan, sejak Senin (25/5/2026), sejumlah pembangkit besar telah kembali masuk ke sistem sehingga pasokan listrik di seluruh wilayah Sumatera dinyatakan aman dan stabil. (*)
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Investigasi Awal Blackout Sumatera, Bareskrim Pastikan Tak Ada Unsur Sabotase

Terkini

Iklan