![]() |
| Agus Fitrizal. (Foto: Expossidiknews) |
Ayah 3 anak ini tiba di Batam pada awal januari 2026 setelah ia mendapat panggilan kerja sebagai Engginering di Jazotel Nagoya Hill. Setelah sepakat dengan gaji dibawah UMK, selanjutnya ia dikontrak pihak Jazotel selama 1 tahun per tanggal 5 januari 2026.
Seiring berjalannya waktu, Agus merasa bingung dalam pekerjaannya. Bagaimana tidak, semula ia ditempatkan di bagian Engineering, namun bidang pekerjaan yang diarahkan justru terkadang diluar skill dia seperti pekerjaan sipil, teknik hingga administrasi.
Kendati demikian, situasi itu bukan menjadi permasalahan baginya. Dalam lingkup pekerjaan itu ia masih melakukan pekerjaannya sesuai arahan atasannya bernama iwan selaku Hotel Manager.
Suatu hari, ia mempertanyakan posisi bidang pekerjaan dia kepada Iwan seperti apa kejelasannya. ia juga meminta kepada pihak manajemèn untuk merubah kontrak, sebab pekerjaan tersebut sudah diluar skil dan tidak sesuai gaji yang dia terima.
"Nah, berawal dari permintaan tersebut, pihak menajemen melalui Iwan tiba-tiba memecat saya secara lisan dengan alasan, saya disebut tidak dapat diajak bekerja sama. Tentu ini alasan yang tidak masuk akal. Saya dihentikan sepihak tanpa ada surat peringatan," ujar Agus sambil menangis berderai air mata saat ditemui wartawan di teras Masjid kawasan Tiban, Selasa (24/2/2026).
"Padahal, dalam point surat kontrak jelas saya dipekerjakan di bidang Engginering. Sekalipun sebelum adanya pemutusan hubungan kerja, SOP nya, karyawan diberi surat peringatan, namun yang saya alami tidak," tambahna.
Tanggal 18 Februari Agus sudah tidak bekerja lagi setelah di pecat secara lisan oleh Iwan. Hingga per tanggal 20 Februari ia resmi di PHK oleh manajemen tanpa surat peringatan maupun surat penghentian.
Kabar pemecatan itu tentu pukulan berat baginya. Ia sempat bingung kehilangan arah. Nasib tidak berpihak. Niat mengais rezeki di Kota Batam demi mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya di Dumai, ia justru diperlakukan tidak adil oleh pihak Jazotel.
Sepintas, ia mencoba menghubungi temannya hingga ia diberi saran tinggal di Masjid kawasan Tiban untuk sementara waktu. Kini, Agus masih tinggal di Masjid tersebut menunggu hak-haknya yang terabaikan. Dari Masjid itu ia menyuarakan keadilan baginya.
Hingga berita ini diterbitkan, wartawan masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak manajemèn Jazotel soal pemecatan Agus yang dinilai sepihak tanpa surat peringatan. (Red)





