Film "Pesta Babi" Picu Diskusi Kritis tentang Papua, Peserta Soroti Pendidikan hingga Hak Masyarakat Adat

terkini

Iklan

Film "Pesta Babi" Picu Diskusi Kritis tentang Papua, Peserta Soroti Pendidikan hingga Hak Masyarakat Adat

14 Juni, 2026, 15.59 WIB. Dibaca: kali Last Updated 2026-06-14T09:00:27Z
Film "Pesta Babi" Picu Diskusi Kritis tentang Papua, Peserta Soroti Pendidikan hingga Hak Masyarakat Adat. (Foto: Dok untuk Expossidiknews)

YOGYAKARTA | ESNews - Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik film dokumenter "Pesta Babi" digelar di Goebog Resto, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (10/6/2026) malam. Kegiatan yang diselenggarakan SHG Advokat bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Raja Ampat (IPMARAM) tersebut menyoroti berbagai aspek pembangunan di Papua, termasuk pentingnya literasi informasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Sekitar 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum menghadiri kegiatan bertajuk "Film Pesta Babi: Antara Realita dan Agenda Pembangunan" tersebut. Acara diawali dengan makan malam bersama dan penampilan Tarian Pangkur Sagu yang dibawakan anggota IPMARAM sebagai bagian dari pelestarian budaya Papua.

Pendiri SHG Advokat, Setyo Hadi Gunawan, dalam sambutannya menegaskan pentingnya ruang dialog yang terbuka untuk membahas berbagai persoalan pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan Papua. Setelah pemutaran film dokumenter berdurasi sekitar satu jam, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan tokoh masyarakat Papua.

Moderator diskusi, Charlien Tania, S.Psi., mahasiswa Profesi Psikologi Universitas Gadjah Mada sekaligus Miss Papua Barat 2013, menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi. Menurutnya, literasi media menjadi kebutuhan mendasar agar masyarakat mampu membedakan fakta, dugaan, dan opini yang beredar di ruang publik.

"Setiap informasi perlu diverifikasi melalui sumber yang kredibel dan dibandingkan dengan referensi lain agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks maupun informasi yang menyesatkan," ujarnya.

Tokoh agama asal Papua, Pdt. Beni Dimara, mengajak generasi muda Papua untuk terus mengembangkan pola pikir kritis dan tidak mudah menerima informasi tanpa proses verifikasi. Ia menilai forum diskusi menjadi sarana penting dalam memperluas wawasan dan memahami berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Dr. Ir. Yunianta, M.P., menyoroti peran sektor pertanian dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, setiap program pembangunan harus memperhatikan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.

Dosen Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Pius Rino Pungkiawan, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa film dokumenter tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai fakta, tetapi juga memuat perspektif dan interpretasi pembuat film terhadap suatu peristiwa.

"Film dokumenter memiliki konstruksi naratif yang dapat membentuk pemahaman tertentu bagi penontonnya. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk melihat sebuah karya secara kritis dan memahami konteks yang melatarbelakanginya," kata Pius.

Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti perlunya pembangunan di Papua yang dilakukan secara inklusif dan partisipatif dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat. Pembangunan dinilai perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan guna meminimalkan potensi konflik sosial.

Peserta juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di Papua. Generasi muda Papua didorong untuk terus menempuh pendidikan, memperluas jaringan sosial, serta meningkatkan kapasitas diri agar mampu berkontribusi dalam pembangunan daerahnya.

Kegiatan ditutup dengan penampilan Tarian Yospan (Yosim Pancar) dan pertunjukan vokal dari anggota IPMARAM yang menampilkan kekayaan budaya Papua. Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana akademis dan kebudayaan yang menitikberatkan pada pertukaran gagasan mengenai pembangunan, literasi informasi, serta masa depan Papua. **
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Film "Pesta Babi" Picu Diskusi Kritis tentang Papua, Peserta Soroti Pendidikan hingga Hak Masyarakat Adat

Terkini

Iklan