![]() |
| Deretan foto warga Batam yang di pajang dan di Blacklist di sejumlah THM Kota Batam. (Foto: Dok untuk Expossidiknews.com) |
BATAM I
ESNews - Lembaran foto misterius dengan cap mencolok bertuliskan "Blacklist"
yang terpajang di pintu masuk sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) di Batam mendadak jadi buah bibir. Instruksinya tegas, siapa pun yang wajahnya ada di
foto tersebut, dilarang menapakkan kaki ke dalam klub tersebut.
Awalnya,
publik dihebohkan oleh foto seorang jurnalis lokal yang dipajang di salah satu
THM. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, "daftar cekal" itu
ternyata juga menyasar warga sipil. Salah satunya adalah NV, warga Batam yang
foto wajahnya sudah nangkring di daftar hitam permanen selama dua bulan
terakhir.
Tak
main-main, foto NV terpampang di tiga titikTempat hiburan malam ternama yang
berada di bawah payung grup usaha yang sama: HH Club Planet 3.0 Pub & KTV,
Planet 2 Newton Pub Nagoya, dan F One Club.
Anehnya,
NV mengaku sama sekali tidak pernah menerima surat peringatan atau penjelasan
resmi dari pihak manajemen. Ia justru tahu dirinya "diboikot" dari
bisik-bisik kerabat yang melihat fotonya dipajang di area internal tempat
hiburan tersebut.
"Yang
saya pertanyakan bukan soal dilarang masuk. Setiap pemilik usaha tentu punya
hak bikin aturan. Tapi, kenapa foto saya dipajang dan disebarkan sebagai blacklist
permanen tanpa ada kejelasan? Saya malu ditanya-tanya oleh teman-teman
saya," keluh NV kepada wartawan, Minggu (7/6/2026).
Aroma Sentimen Pribadi dan Relasi Kuasa
Bukan
karena tindakan kriminal atau bikin onar, NV menduga kuat bahwa sanksi sosial
ini berakar dari gesekan pribadi antara dirinya dengan seorang manajer THM
berinisial VN. Konflik tersebut diklaim murni masalah personal yang tidak ada
hubungannya dengan keamanan klub.
NV
mengaku sudah berulang kali menurunkan egonya dan meminta maaf kepada VN agar
namanya dibersihkan dari daftar hitam. Sayang, permohonan maaf itu mental dan
tak pernah digubris.
"Ini
hanya masalah pribadi. Saya berkali-kali minta maaf secara pribadi agar blacklist
itu dibuka. Tapi VN tidak menggubris. Maklum, saya orang biasa, sedangkan
mereka orang berkuasa yang punya uang dan jabatan," tutur NV getir.
NV
melihat ada subjektivitas yang kental dalam kasus ini. Pengaruh kuat VN di
lingkaran manajemen diduga menjadi pemantik mengapa masalah pribadi bisa
berujung pada pemboikotan massal di tiga klub sekaligus. Kuat dugaan, VN
memiliki posisi tawar yang tinggi karena kedekatannya dengan salah satu
petinggi grup usaha berinisial YG.
Menabrak Hak Privasi?
Sengkarut
ini pun memicu pertanyaan besar: Apakah penerapan blacklist di THM Batam
murni berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan, atau
justru sarana pembalasan dendam pribadi oknum tertentu?
Sejumlah
praktisi hukum angkat bicara. Pada prinsipnya, pengelola usaha memang memiliki
hak menolak konsumen (right to refuse service). Namun, jika aturan itu
sampai menyebarluaskan identitas dan foto pribadi ke ranah publik tanpa izin,
ceritanya bisa berbeda.
"Jika
foto seseorang dipasang dan disebarluaskan tanpa persetujuan, kita harus lihat
konteks dan tujuannya. Apalagi jika tindakan tersebut berpotensi menjatuhkan
reputasi atau memberikan stigma negatif pada seseorang," ujar seorang praktisi
hukum yang meminta namanya dirahasiakan.
Hingga
berita ini diturunkan, pihak manajemen dari HH Club Planet 3.0, Planet 2
Newton, F One Club, serta pihak VN dan YG yang terseret dalam pusaran kasus ini
masih bungkam dan belum memberikan keterangan resmi.
Tim
redaksi terus berupaya mendapatkan konfirmasi berimbang demi mengurai benang
kusut mekanisme blacklist ini. Kasus ini pun membuka mata publik terkait
batasan kewenangan pengelola hiburan malam, serta sejauh mana hak privasi warga
negara dilindungi dari kesewenang-wenangan relasi kuasa. (Red)





