![]() |
| Potret armada pengangkut barang selundupan yang diduga milik WI di kawasan Pelabuhan ASDP Telaga Punggur, Batam, Rabu (28/10/2026). (Foto: Dok/Expossidiknews) |
BATAM | ESNews – Dugaan aktivitas pengiriman barang impor dan barang kena cukai pajak pendapatan negara (PPN) melalui Pelabuhan ASDP Telaga Punggur, Batam, menuju Buton, Riau menjadi sorotan.
Modusnya klasik namun yakni fatal, menyelundupkan barang tanpa kepabeanan ke luar daerah untuk menghindari bea masuk dan pajak. Ujung-ujungnya, uang negara yang dirampok.
Informasi yang dihimpun awak media di lapangan, nama WI kian santer disebut-sebut di pelabuhan ASDP Telaga Punggur. ia adalah aktor dibalik aktivitas tersebut.
Ironisnya dari informasi yang beredar, nama WI sudah menjadi rahasia umum. Bahkan satu-satunya aktor penyelundup di Pelabuhan ASDP Telaga Punggur.
“Sebelum-sebelumnya banyak pemain disini. Tapi sekarang hanya dia (WI) satu-satunya yang seolah-olah sudah mendapat restu atau bisa dikatakan karpet merah,” beber sumber Expossidiknews, Rabu (28/10/2026).
Tak hanya itu, muncul pula dugaan adanya pihak-pihak yang memberikan perlindungan terhadap aktivitas WI termasuk oknum aparat.
Jika benar, dugaan ini tentu menjadi persoalan serius karena pengawasan pelabuhan seharusnya berjalan sesuai ketentuan hukum tanpa adanya perlakuan khusus terhadap pihak tertentu.
Tak ada modus atau alibi apa pun ketika armada WI masuk ke area Pelabuhan. “Justru dengan leluasa armada dia langsung masuk ke kapal tanpa melewati pemeriksaan di Tempat Penimbunan Sementara (TPS). Kalau tidak percaya silahkan cek sendiri,” ujarnya.
“Bahkan, paling kacaunya pos P2 BC Pelabuhan ASDP tak berdaya seolah tutup mata ketika armada WI Nopol BA 99** OU tadi melintas masuk ke area Pelabuhan,” pungkasnya.
Lantas, barang-barang apa saja yang diselundupkan atas kegiatan tersebut?
informasi yang dihimpun wartawan, barang yang diselundupkan yakni barang-barang impor dengan nilai ekonomis yang tinggi serta barang kena cukai seperti Rokok dan Minuman Alkohol tanpa pita Cukai.
“Infonya, barang impor yang diselundupkan itu adalah barang pesanan orang-orang pejabat dan petinggi-petinggi di pusat. Jadinya rutenya melalui Batam-Buton dan berakhir ke Jakarta,” bebernya.
Berbeda halnya dengan aktivitas penyelundupan yang menggunakan pola modus jasa barang pindahan. Mereka wajib melewati pemeriksaan di TPS. Namun itu sebenarnya seolah hanya formalitas saja.
Padahal faktanya, barang yang dibawa adalah barang bisnis yang diperjual belikan di wilayah Sumatera dengan menggunakan dokumen barang pindah lewat jasa ekspedisi.
Seperti pengiriman 1 unit Motor Harlay Davidson ke Tungkal Jambi pada Selasa (27/10/2026) kemarin. Awalnya satupun petugas di Pelabuhan bungkam saat dikonfirmasi terkait dokumen Moge tersebut.
Namun setelah Kapal KM Sembilang yang membawa Moge berangkat lepas jangkar pada pukul 16.15 WIB, petugas dari POS P2 BC tiba-tiba mengklarifikasi bahwa Moge tersebut sedang event Touring selama 4 hari kedepan. Dan akan balik lagi ke Batam.
Tak hanya itu, Pemilik Moge bernama Setiawan juga tiba-tiba menghubungi Expossidiknews untuk menegaskan kembali bahwa ia sedang Touring selama 4 hari kedepan dan selanjutnya akan kembali ke Batam.
Pertanyaannya, apabila Moge tersebut tidak balik lagi ke Batam, tentu aktivitas tersebut diduga kuat adalah pola upaya penyelundupan.
Persoalan serupa juga mencuat terkait informasi pengiriman dua unit mobil mewah menuju Jakarta melalui rute Batam–Buton pada September lalu yang diduga di kawal oleh oknum aparat.
Dikabarkan, kedua mobil mewah tersebut masih polos tanpa identitas Nomor Polisi (Plat). Lantas bagaimana bisa kedua Mobil tersebut lewat dan diangkut Kapal tanpa identitas Nopol?
Informasi yang dihimpun, Aktivitas pengiriman Mobil mewah lewat Pelabuhan ASDP Punggur dengan tujuan ke berbagai daerah juga sudah sering terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi Expossidiknews belum memperoleh keterangan resmi dari pengelola Pelabuhan ASDP Telaga Punggur, Bea Cukai, maupun pihak-pihak yang disebut dalam informasi tersebut. (Red)





